
Medan(siletpost.com),-Di tanah yang subur oleh harapan dan kerja sama, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bergandengan tangan dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Karo, serta Pemerintah Kota Palangka Raya, merajut kembali harmoni pengendalian inflasi. Melalui pelepasan pengiriman cabai merah keriting dalam bingkai Kerja Sama Antar Daerah (KAD), mereka menghadirkan bukan sekadar distribusi komoditas, melainkan denyut sinergi yang mengalirkan keseimbangan dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dikutip dari sumut.antaranews.com, total cabai merah keriting yang dikirimkan mencapai 1,05 ton dan dilakukan dalam tiga tahap pengiriman.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Rudy Brando Hutabarat menegaskan bahwa Bank Indonesia terus berkomitmen memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui pendekatan hulu hingga hilir.
Implementasi Kerja Sama Antar Daerah merupakan salah satu strategi utama yang secara konsisten didorong oleh Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memperkuat keseimbangan pasokan dan permintaan antarwilayah serta memitigasi gejolak harga.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam menjaga stabilitas harga dan kecukupan pasokan komoditas pangan strategis, khususnya cabai merah keriting, di tengah dinamika produksi dan distribusi antarwilayah. Penguatan konektivitas perdagangan antar daerah menjadi kunci untuk mengatasi ketidakseimbangan pasokan dan harga antar wilayah.
Cabai merah merupakan salah satu komoditas utama penyumbang inflasi pangan yang pergerakan harganya sangat dipengaruhi oleh kondisi pasokan. Saat ini, Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Karo sebagai sentra produksi cabai merah, tengah mengalami surplus pasokan akibat panen serentak sehingga harga di tingkat produsen sempat mengalami tekanan signifikan.
Sebaliknya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menghadapi keterbatasan pasokan yang berdampak pada relatif tingginya harga cabai di wilayah tersebut. Kondisi ini menegaskan pentingnya optimalisasi distribusi antarwilayah sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga.
Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sinergi yang kuat antara seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pengendalian inflasi daerah.
Kerja sama ini dinilai sebagai langkah konkret dalam merespons kondisi surplus produksi cabai merah di Sumatera Utara yang sempat menekan harga di tingkat petani hingga sekitar Rp12.000 per kilogram, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan daerah tujuan.
Ke depan, TPID Provinsi Sumatera Utara akan terus mendorong penguatan ekosistem pangan daerah yang tidak hanya berfokus pada aspek distribusi, namun juga mencakup peningkatan produktivitas, perbaikan efisiensi rantai pasok, serta pemanfaatan digitalisasi sistem informasi pangan.
Upaya tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya pengendalian inflasi yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan, guna menjaga stabilitas ekonomi daerah dan mendukung kesejahteraan masyarakat.
Kabupaten Karo merupakan salah satu sentra produksi cabai merah di Sumut, dengan luas lahan sekitar 4.000 hektare. Selain ke Palangkaraya, cabai merah dari daerah ini juga dipasok ke Sumatera Barat dan Riau.
Ketua Gapoktan Terpuk Sisiwa, Pedoman Ginting, menilai sinergi antardaerah menjadi solusi efektif dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga. Dampak positifnya kini mulai dirasakan para petani.
