Batubara(siletpost.com),-Botol Plastik bukan lah hanya sampah, namun menjadi nilai rupiah asal dikelola dengan baik, terukur dan terarah. Seperti halnya Desa Kuala Tanjung ini, menyulap botol plastik didesanya kemudian menjadi nilai rupiah untuk dikelola menjadi peningkatan sumber daya manusia melalui kursus bahasa inggris.

Program ini dilakukan melalui kerjasama dengan PT Inalum untuk Cetak Generasi Muda Unggul.
Kebijakan ini, adalah sebuah terobosan inovatif kembali lahir dari Desa Kuala Tanjung. Bekerja sama dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), pemerintah desa meluncurkan program kursus Bahasa Inggris untuk generasi muda, dengan sistem pembayaran yang tak lazim-menggunakan botol plastik sebagai ganti uang tunai.
Langkah ini bukan sekadar gebrakan simbolik, tetapi merupakan bentuk nyata dari upaya strategis peningkatan kualitas SDM desa dalam menyongsong transformasi kawasan menjadi International Hub. Mengintegrasikan isu pendidikan dan lingkungan, program ini mengandung pesan ganda: penguatan kompetensi bahasa asing sekaligus edukasi pengelolaan sampah berbasis partisipasi.
Kepala Desa Kuala Tanjung menekankan bahwa program ini telah dirancang serius, bukan kegiatan seremonial biasa.
“Program ini bukan sekadar formalitas. Sudah kami konsep matang dengan kurikulum yang disusun oleh tim ahli lulusan S3 dari Kota Medan. Kurikulum ini tidak hanya untuk peserta didik, tetapi juga untuk para pengajar, agar kualitas kursus benar-benar terjaga,” ujar Kepala Desa.
Program ini dijadwalkan dua kali seminggu, setiap Selasa dan Kamis. Menariknya, peserta yang berhasil melewati ujian sesuai levelnya akan menerima sertifikat berstandar resmi—membuka peluang mereka lebih luas di dunia kerja maupun pendidikan lanjut.
Lebih dari sekadar inovasi pembiayaan, skema “bayar pakai sampah” mencerminkan filosofi pembangunan berkelanjutan.
Botol plastik yang dikumpulkan lewat Bank Sampah Desa bukan hanya mengurangi limbah, tapi menjadi simbol transisi nilai: dari konsumtif ke produktif, dari beban menjadi peluang.
Dukungan dari PT Inalum pun tak setengah hati. Vice President CSR PT Inalum, Ali Hasian, hadir langsung dan menyampaikan pesan penuh dorongan.
“Apa yang kalian pelajari di kelas harus diulang di rumah. Kalau bisa, gunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari sesama peserta. Jangan malu-malu,” pesan Ali Hasian.
Keterlibatan perempuan juga terlihat kuat dalam program ini. Ketua TP PKK Desa Kuala Tanjung, Sri Wahyu Indriani Sinaga, SP, menunjukkan dukungan penuh dengan menghadirkan duta pelajar desa, Insyrah Lahfah Anfani alias Safa. Dalam pidato Bahasa Inggris yang disampaikan dengan penuh percaya diri, Safa menularkan semangat belajar kepada peserta lain.
“Yang paling penting adalah konsistensi. Setiap hari, tambahkan satu kosakata baru, dan jangan pernah menyerah. Tanamkan dalam hati: ‘I can do it!’,” ujar Safa, disambut tepuk tangan dari para tamu.
Menutup rangkaian acara, Sri Wahyu kembali menegaskan pentingnya etika dan nilai moral dalam membentuk karakter generasi muda.
“Doa ibu bisa menembus langit. Maka jangan pernah melawan ibu, ya nak,” pesan Sri Wahyu.
Kepala Desa Ibnul Fandika, SE, mengakhiri acara dengan pernyataan yang mencerminkan visi besar kepemimpinannya: membangun SDM sebagai pondasi utama menuju peradaban yang unggul.
“Kami tidak hanya membangun infrastruktur, tapi juga peradaban, demi menuju Indonesia Emas 2045.”
Program ini tak hanya menjadi contoh sinergi antara pemerintah desa, dunia usaha, dan masyarakat. Ia juga memperlihatkan bahwa pembangunan karakter, kesadaran lingkungan, dan kompetensi global dapat berjalan beriringan dimulai dari hal sederhana seperti botol plastik.
Reporter : Yogi Fauzi
Editor : Red

