Opini(siletpost.com),-Mengurai benang kusut masalah begitu sulit, bahkan masalah belum kelar, malah amarah yang berkelakar. Kadang kita hanya ingin duduk sebentar, berbicara dengan kepala dingin, mencari jalan keluar yang tidak melukai siapa pun.

Namun kenyataan sering berbeda, kata-kata yang keluar justru semakin memperkeruh keadaan. Dalam situasi seperti itu, hati yang ingin damai justru menjadi tempat pertama yang terluka. Seakan niat baik tidak selalu diterjemahkan dengan baik oleh orang lain.
Ada individu ringan tangan membantu. Melihat yang butuh, dia datang tak disangka menjadi suluh ditengah kelam. Kalau ada yang lagi susah, dia berusaha ada. Dia juga berusaha menjaga perasaan orang lain supaya semua tetap nyaman.
Tapi sering kali, saat dia sendiri butuh dimengerti, justru tidak banyak orang yang benar-benar peduli. Orang melihat dia kuat, padahal kuat bukan berarti tidak pernah lelah.
Kadang memang begitu hidup berjalan, begitu juga cara dunia bekerja, Kita sudah berusaha menjaga hati banyak orang, tapi belum tentu orang melakukan hal yang sama pada kita. Kita menahan kata-kata, memilah frasa supaya tidak menyakiti, tapi tak jarang yang lain bicara seenaknya, berbuat semaunya, dan harap ibarat jauh panggang dari api.
Bahkan sekitar yang dekat yang kita hormati, tidak selalu kita dapat perlakuan yang sama dan disitulah budi yang telah dibagi jangan harap kembali : ibarat buah jatuh tak guna diharap naik lagi didahan atau ditandan.
Sering kali memang kita berusaha semampunya namun orang seenaknya, kita berbuat kebajikan namun orang lakukan pengabaian, dan kita justru tak mengutuk, mengumpat apalagi melawan.
Pribadi yang tulis itu yang tak ingin baik terlihat oleh mata namun ingin mencari kemurnian jiwa. Bahkan justru orang yang tulus selalu berbuat paling banyak mengalah namun yang paling jarang dipahami.
Sosok ini seperti mengambil pelajaran dari air tenang, mengalir perlahan, dan meresap tanpa banyak suara. Ia tidak banyak menuntut, lebih sering memilih diam dan memahami keadaan. Namun anehnya, kehadirannya kerap diabaikan, seolah tidak terlalu penting. Padahal ketika dibutuhkan, perannya selalu diharapkan.
Ia ibarat debu tayammum yang dianggap berguna hanya ketika keadaan terdesak. Saat tidak ada air, debu itu menjadi penyelamat. Namun ketika air telah ditemukan, tayammum pun batal dan debu itu kembali dipandang biasa saja. Begitulah sosok ini, sering hadir memberi manfaat ketika orang lain membutuhkan, tetapi mudah dilupakan ketika keadaan sudah kembali baik.
Memilih diam bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena tidak ingin masalah makin panjang. Kadang diam itu bukan kalah, tapi memilih supaya keadaan tidak makin rusak. Walau di dalam hati sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan.
Ada juga saatnya kita bertanya dalam hati, apakah kebaikan ini masih perlu terus diberikan kepada orang yang bahkan tidak menghargainya. Pertanyaan itu wajar, karena setiap orang juga punya batas. Tapi dari situ kita belajar bahwa membantu orang tidak selalu soal balasan. Kadang itu hanya soal menjaga diri kita sendiri agar tidak berubah menjadi orang yang keras karena kecewa.
Ada prinsip yang harus dipegang membantu tanpa pamrih, membantu bukan semata karena dipinta, Bukan juga karena ada harap gayung kan bersambut.
Namun murni menyambut tangan orang hendak jatuh kejurang bukan karena ia lebih dulu menggamit tangan, namun empati timbul, kerelaan datang dan aku mau melakukannya.
Sebuah realita yang harus kita pahami, tidak semua tangan yang kita sambut dan bantu berdiri akan ada saat kita membutuhkan. Tidak semua kebaikan akan diingat dan dikenang, dan tidak semua ketulusan akan dibalas.
Namun kebaikan tetaplah kebaikan, tak perlu mengutuk apalagi menyesal pernah membantu, karena amal baik itu dengan tulus dan sadar.
Jadi kalau hari ini kita masih seperti ini, bukan karena ada menunggu balasan dari siapa pun. Kita hanya memilih tetap menjadi diri sendiri.
Dengan prinsipnya menggamit tanganmu karena aku mau, bukan karena berharap suatu hari emgkau gamit tanganku juga. Dan jika lupa, itu pun tidak masalah. Karena dari awal tidak pernah menuntut siapapun untuk mengingatnya, dan tak apa jadilah Amnesia.
Essay Reflektif
Bung Arwan
13 Maret 2026
