Opini(siletpost.com),-Dalam momentum peringatan Hari Perempuan Internasional, Sri Rezeki Wahyuni Nazla, S.H., menyampaikan bahwa perjuangan perempuan saat ini tidak lagi sekadar menuntut pengakuan, tetapi juga menegaskan peran strategis perempuan sebagai kekuatan intelektual yang mampu membawa perubahan sosial. Menurutnya, perempuan tidak hanya hadir sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga sebagai pemikir, penggerak, dan pengambil keputusan yang memiliki kontribusi nyata dalam membangun kehidupan yang lebih adil dan setara.

Sri Rezeki Wahyuni Nazla, S.H menilai bahwa hingga saat ini masih terdapat pola pikir patriarki yang membatasi ruang gerak perempuan, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun dalam ruang pengambilan kebijakan. Padahal, perempuan memiliki kapasitas intelektual, kemampuan kepemimpinan, serta daya analisis yang tidak kalah dengan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan perlu terus memperkuat posisi dirinya sebagai perempuan cendekia yang berani bersuara, berpikir kritis, serta berkontribusi aktif dalam berbagai sektor pembangunan.
Menurutnya, perempuan cendekia tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan, tetapi juga dari keberanian untuk berpikir independen dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan. Perempuan yang memiliki pengetahuan dan kesadaran kritis akan mampu menantang struktur sosial yang tidak adil, termasuk sistem patriarki yang selama ini kerap menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.
“Perempuan harus percaya pada kapasitas dirinya. Perempuan bisa menjadi pemimpin, akademisi, profesional, maupun penggerak sosial. Ketika perempuan berani menggunakan pengetahuan dan kecerdasannya untuk memperjuangkan keadilan, maka pada saat itu pula perempuan sedang membangun peradaban yang lebih setara,” ujar Sri Rezeki Wahyuni Nazla, S.H.
Ia juga menegaskan bahwa kemajuan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari peran perempuan yang berdaya dan terdidik. Ketika perempuan memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, kesempatan kerja, serta ruang partisipasi publik, maka hal tersebut akan berdampak langsung pada kualitas pembangunan sosial secara keseluruhan.
Momentum Hari Perempuan Internasional, lanjutnya, harus dimaknai sebagai pengingat bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berkembang, berkarya, dan memimpin. Perempuan tidak boleh lagi dibatasi oleh konstruksi budaya yang menempatkan mereka hanya pada peran domestik semata. Sebaliknya, perempuan harus didorong untuk terus menjadi kekuatan intelektual yang mampu mempengaruhi arah perubahan masyarakat.
Menutup pernyataannya, Sri Rezeki Wahyuni Nazla, S.H mengajak seluruh perempuan untuk terus memperkuat solidaritas dan keberanian dalam memperjuangkan kesetaraan. “Perempuan bisa, perempuan kuat, dan perempuan harus berani bangkit melawan patriarki dengan kekuatan pengetahuan, keberanian, dan solidaritas. Perempuan cendekia adalah fondasi penting bagi lahirnya masyarakat yang adil, demokratis, dan bermartabat,” pungkasnya.
