Opini(siletpost.com),-Perubahan sosial yang terus terjadi seiring berkembangnya peradaban bangsa dan bangsa Indonesia tentunya turut mempengaruhi tumbuh kembangnya HMI dalam dunia pergerakan pemuda dan mahasiswa.
Selain itu, HMI yang sempat mencapai titik jenuh organisasi pada masa Orde Baru, mendapati dirinya berada dalam zona nyaman di tengah lingkungan elit dan kekuasaan. Padahal, tugas utama gerakan pemuda dan mahasiswa adalah mewujudkan perubahan, pembaharuan, dan pembangunan di masyarakat.
Dan dalam hal ini, HMI sudah kehilangan kontak dengan warisannya.
Penyebabnya, aktivitas eksekutif organisasi sudah kehilangan semangat kekritisan dan progresifitas serta hanya menjadi aktivitas rutin belaka.
Oleh karena itu, agar sebuah organisasi dapat mempertahankan sistem kadernya dan terus memenuhi misinya, kemampuan organisasi untuk beradaptasi dan membaca tren zaman harus menjadi inti metodologi gerakan.
Apabila pedoman organisasi, nilai-nilai dasar perjuangan, peraturan perundang-undangan dimaknai sebagai dokumen yang tidak bermakna belaka, namun sebagai semangat untuk mencapai tujuan utama organisasi, maka organisasi pergerakan akan mencapai jurang semangat perjuangan.
Dengan demikian, kisah-kisah kehebatan dan sistem senioritas di masa lalu sudah menjadi aturan yang tidak tertulis, namun menjadi pedoman baku bagi kader dan ibarat dogma yang meresap dan melekat pada seluruh kader, mendorong perubahan, reformasi, dan pembangunan, sehingga melahirkan kreativitas bagi para eksekutif yang melaksanakannya.
Beban sejarah dibatasi melalui sistem.
Gerakan HMI bertumpu pada sistem nilai: basis nilai politik, basis nilai ideologis, dan basis nilai sosiologis. Landasan nilai politik HMI selaras dengan tujuan organisasi.
Namun dalam hal ini landasan nilai-nilai politik bukan berarti kekuasaan, melainkan mengarahkan seluruh sumber daya dan upaya organisasi untuk mewujudkan peradaban Indonesia yang lebih baik dan aktivitas organisasi sejalan dengan nilai-nilai yang dimilikinya. Landasan nilai-nilai ideologi HMI tentu saja yang tertuang dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).
Hal ini merupakan upaya HMI untuk merangkum dan merumuskan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran sebagai pedoman dalam mewujudkan misi dan tujuan organisasi.
Jika landasan nilai politik dan ideologi ditetapkan secara formal dalam konstitusi HMI, maka landasan ketiga adalah landasan nilai sosiologis, yang didasarkan pada konteks budaya dan aktivitas HMI dalam mewujudkan misinya. Budaya dalam HMI membentuk nilai-nilai fundamental yang membentuk karakter pengurus HMI dan juga nilai solidaritas keberagaman dalam HMI.
Nilai-nilai inti HMI adalah kebenaran, kebebasan intelektual, inklusivitas, pluralisme, gagasan kemajuan, keunggulan akademik (rasional, obyektif, kritis, ilmiah, profesional), dan integritas eksekutif (Independensi, Tanggung Jawab, Integritas, Kewajaran) dan Persaudaraan.
dan partai untuk kemanusiaan, mustadafin (partai tertindas), dan kemerdekaan.
Dalam menghadapi realitas sosial, ketiga landasan perjuangan tersebut di atas (Ed.
: politik, ideologi, sosial) harus berpedoman pada strategi organisasi.
Strategi ini harus mencakup tiga bidang kegiatan HMI: bidang organisasi, bidang intelektual, dan bidang nasional.
Paradigma baru strategi dalam menjalankan misi HMI beroperasi pada ranah intelektual dan publik berupa Gerakan Ilmiah Islam, ranah organisasi berupa praktik manajemen strategis, dan ranah nasional berupa diskusi nasionalisme progresif.
Tak heran jika HMI terus melahirkan generasi-generasi Indonesia yang memiliki kualitas dan kemampuan memimpin negara dari masa ke masa. Oleh karena itu HMI harus selalu mampu memberikan gagasan, gagasan dan konsep untuk berubah, direformasi dan dikembangkan guna mewujudkan peradaban Indonesia yang lebih baik.
Mempertahankan kedudukan dan peran strategis HMI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan strategi yang tepat dan kemampuan menangkap semangat zaman sebagai modal utama HMI. Inilah tugas kita sebagai generasi yang bertugas di seluruh jajaran organisasi HMI untuk menyusun strategi dalam menjalankan misi organisasi secara modern.
Penulis :
Ahmad Ikhsan Siregar (Kader HMI Cabang Labuhanbatu Raya)

